Senin, 07 Januari 2013

Pendekatan Realistik


Salah satu filosofi yang mendasari pendekatan realistik adalah bahwa matematika bukanlah satu kumpulan aturan atau sifat-sifat yang sudah lengkap yang harus siswa pelajari. Menurut Freudenthal (1991) matematika bukan merupakan suatu subjek yang siap saji untuk siswa, melainkan bahwa adalah suatu pelajaran yang dinamis yang dapat dipelajari dengan cara mengerjakannya.
            Dalam kerangka pendekatan realistik dalam pembelajaran matematika Freudenthal (1991) menyatakan bahwa “Mathematic as human activity”, yang artinya adalah matematika sebagai aktivitas manusia. Karenanya, pembelajaran matematika disarankan berangkat dari aktivitas manusia.
            Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut, pembelajaran matematika dengan pendekatan relaistik adalah suatu pendekatan dengan cara penyampaian materi matematika yang didasari hal-hal nyata yang pernah dialami siswa agar siswa aktif dalam proses penemuan konsep-konsep matematika.
            Dalam filosofi realistik, kepada siswa diberikan tugas-tigas yang mendekati kenyataan, yaitu yang dari dalam siswa akan memperluas dunia kehidupannya. Kemajuan individu maupun kelompok dalam proses belajar - seberapa jauh dan seberapa cepat – akan menentukan spektrum perbedaan dari hasil belajar dan posisi individu tersebut.
            Pembelajaran matematika dengan pendekatan realistik diketahui sebagai pendekatan yang telah berhasil di Belanda. Ada suatu hasil yang menjanjikan dari penelitian kuantitatif dan kualitatif yang telah ditunjukkan bahwa siswa di dalam pendekatan relistik mempunyai skor yang lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan tradisional dalam hal keterampilan berhitung, lebih khusus lagi dalam aplikasi (Becker & Selter, 1996). Gagasan pendekatan realistik dalam pembelajaran metematika tidak hanya popular di negeri Belanda saja, melainkan banyak mempengaruhi kerjanya para pendidik matematika di banyak bagian di dunia (freudenthal, 1991; Gravemeijer, 1994; Streefland, 1991).
            Beberapa penelitian pendahuluan di beberapa Negara menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pendekatan realistik sekurang-kurangnya dapat membuat :
·         Matematika menjadi lebih menarik, relevan, dan bermakna, tidak terlalu formal, dan tidak terlalu abstark
·         Mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa
·         Menekankan belajar matematika pada “learning by doing
·         Memfasilitasi penyelesaian matematika dengan tanpa penyelesaian (algoritma) yang baku.
·         Menggunakan konteks sebagai titik awal pembelajaran matematika (Kuiper & Knuver, 1993).

Pengembangan pendekatan realisitik dalam pembelajaran matematika merupakan salah satu usaha meningkatkan kemampuan siswa memahami matematika. Usaha-usaha ini dilakukan sehubungan dengan adanya perbedaan antara ‘materi’ yang dicita-citakan oleh kurikulum tertulis dengan ‘materi yang diajarkan’, serta perbedaan antara ‘materi yang diajarkan’ dengan materi yang ;dipelajari siswa’ (Niss, 1996).
Terdapat lima prinsip utama dalam “kurikulum” matematika dengan pendekatan relastik (Tim MKPBM, 2001), yaitu:
1.      Didominasi olieh masalah-masalah dalam konteks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika;
2.      Perhatian diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema, dan simbol-simbol;
3.      Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajran menjadi konstruktif dan produktif, artinya siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri (yang mugkin berupa algoritma, rule, atau aturan), sehingga dapat membimbing para siswa dari level matematika informal menuju matematika formal;
4.      Interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika; dan
5.      Interviewing (membuat jalinan) antar topic atau antar pokok bahasan.

0 komentar:

Poskan Komentar